Pages

Senin, 19 Agustus 2013

Tindakan tehadap Pelanggaran Lalu Lintas

Kalau kita ditilang, kita pasti merasakan kesulitan-kesulitan yang berarti, seperti sejumlah uang untuk menebus STNK atau surat penting lain yang ditahan oleh pihak berwenang dan waktu yang tidak sebentar untuk menunggu nama kita dipanggil dalam persidangan. Dengan mengingat betapa tidak enaknya semua pengalaman itu (baik dari pengalaman pribadi maupun cerita orang yang beredar), saat kita secara sadar maupun tak sadar melanggar peraturan, dengan bersemangat kita justru menyodorkan beberapa lembar uang berwarna biru atau merah dan menyelipkannya pada bapak-bapak berpakaian rapi dengan nama yang tersulam pada bagian atas kantong bajunya.



Bukannya tidak pernah melakukannya, tapi seorang yang punya visi Indonesia yang lebih baik ini (maksudnya saya) mau berusaha untuk menghindari semua pengalaman ngga enak itu tapi bukan dengan memboroskan uang dan menyuburkan para penyandang jabatan "pemberantas kejahatan", namun dengan menghindari pelanggaran dari awalnya. Coba bayangkan betapa bahagianya kita bila bisa hidup tenang, bebas dari urusan hukum dan bisa menyimpan uang untuk berbelanja. Lebih dari semuanya itu, terbayang adanya rasa bangga dalam batin saat mengetahui dan mengakui bahwa saya bukan pelanggar aturan lalu lintas.

Beberapa pelanggaran yang dengan mudah dapat dilakukan masyarakat dan dianggap lumrah mencakup hal-hal berikut:

  • berkendara tanpa membawa SIM/ STNK dan KTP yang masih berlaku
  • mengendarai motor tanpa menggunakan helm dan perlengkapan penjamin keselamatan lainnya
  • tidak mengurus pajak kendaraan bermotor nya tepat waktu, sehingga plat kadaluwarsa
  • menggunakan handphone saat berkendara
  • melanggar lampu merah karna buru-buru
  • berganti jalur atau berputar balik di tempat yang tidak semestinya
  • tidak menyalakan lampu saat mengendarai motor
Tidak semuanya dapat dijelaskan dalam tulisan ini, tapi setidaknya itu adalah hal-hal yang sangat alami mudah dilanggar. Mungkin Indonesia punya harapan dengan penegakan hukum terkait peraturan lalu lintas. Berdasarkan artikel mengenai Operasi Ketupat Jaya 2013, jumlah pelanggaran meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 57.574 menjadi 66.516 kendaraan. Sementara jumlah peneguran meningkat dari 19.928 menjadi 88.996, sebuah angka yang fantastis. 

Beberapa faktor dapat mempengaruhi hal ini, misalnya jumlah aparat yang bertugas dan ketegasan metode penegakan hukum yang berbeda dari sebelumnya. Jumlah peneguran sendiri meningkat 4.5 kali lipat dari tahun 2012, bila hal ini dapat dijadikan tolak ukur pengukuran ketegasan tindakan pada pelanggaran peraturan lalu lintas, maka kita mungkin dapat berani berharap pada hukum dan peraturan negeri kita Indonesia. 

Menyinggung faedah jalur khusus bagi Transjakarta, telah disampaikan sedikit bukti bahwa pelanggaran mesti ditindaklanjuti yaitu bahwa si "Anak Jenderal" tidak terbebas dari pencarian dan penegakan hukum. Sungguh memberi pencerahan bahwa jabatan dan kekuasaan tidak membeli hukum Indonesia. Setelah itu mungkin kita dapat berharap bahwa para pelanggar peraturan tidak dibebaskan begitu saja setelah mereka keluar dari jalur busway, tapi benar-benar mendapat pelajaran untuk menjadi bagian dari warga negara Indonesia yang pada hakikatnya tunduk pada hukum dan peraturan Indonesia.

Fungsi tekhnologi seperti CCTV hanya memudahkan pengawasan dan penyediaan bukti dalam penindaklanjutan, penegakan hukum dan pertauran kembali pada individu dan aparat yang memang bertugas melakukannya. Alangkah baiknya bila suatu pelanggaran memberikan pelajaran dan menjadikan si pelanggar jera serta tidak melakukannya lagi. Untuk mencapai visi itu, misi ini perlu dijalani terutama oleh sang penegak hukum yang menindaklanjuti setiap pelanggaran yang dilakukan, bahkan meski pelanggaran itu terjadi kemarin, selalu ada waktu bagi para aparat untuk menegakkan hukum, itu pendapat saya sebagai seorang warga yang mau mulai untuk taat pada peraturan dan menunjukkan integritas. 

Source
http://id.berita.yahoo.com/operasi-ketupat-jaya-66-516-kendaraan-kena-tilang-031811441.html
http://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/mengembalikan-faedah-jalur-khusus-bagi-transjakarta-090215005.html

Senin, 15 Juli 2013

Bayi dan Kemanusiaan di Negeri Bambu

Kata orang, bayi itu makhluk tak berdosa yang lahir tanpa cacat cela dan noda kesalahan, tapi sejujurnya kenyataan berikut mungkin hanya dialami oleh mereka yang pernah mengurus bayi secara intensif. Kenyataan bahwa bayi bisa jadi sangat menyebalkan, manusia kecil yang tidak dapat dimengerti keinginannya, namun justru menangis dan merengek ketika tidak mendapatkan keinginannya.

Penulis blog ini belum menjadi orang tua yang menimang bayinya sendiri, tapi pernah mengajar anak-anak termasuk kelas TK A dan B di sebuah tempat les Inggris di Jakarta Barat. Tak bisa dikatakan mengerti, tapi kurang lebih mengetahui dan berusaha memahami bagaimana anak-anak batita dan balita bisa sangat menyebalkan, bikin keki atau marah tapi juga bisa jadi sangat menggemaskan. Sumber keceriaan hidup dan penghiburan bahkan ketika mereka malaikat-malaikat ini belum memahaminya.

Seperti kisah berikut di mana seorang ibu melukai bayinya yang berusia 8 bulan dengan menusuknya di wajah hingga 90 kali. Pasti benak kita dipenuhi pertanyaan seperti perlukah usia ibu dipertanyakan untuk mengetahui kesiapan mental sang ibu? Atau di manakah peran sang ayah ketika hal ini terjadi? Mengapa seorang ibu tega melakukan hal tersebut pada anak yang lahir dari rahimnya? Menurut saya jawabannya sederhana, sang ibu belum memiliki kasih sayang seorang ibu sejati. Xiao Bao menggigit ketika disusui, itulah alasan kenapa sang ibu menusuknya lalu menaruhnya di depan rumah dengan bersimbah darah.

Meski tetangga sudah meminta pemerintah untuk mencabut hak asuh Xia Bao dari ibunya, tapi permintaan itu ditolak dengan alasan tak ada bukti bahwa ibu Xiao Bao mengalami kelainan jiwa yang bisa membahayakan nyawa anaknya. Mungkin hal ini benar seperti yang coba disampaikan Yahoo! melalui kutipan dari Telegraph tentang kenyataan ada 173 juta penduduk China yang mengalami gangguan mental tapi tak pernah mendapat penanganan secara profesional. Namun alasan tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa alasan ini hanya sebuah selubung kenyataan bahwa China sangat padat penduduk dan kehilangan beberapa jiwa bukanlah masalah besar.

Kembali pada poin sebelumnya, kasih ibu adalah prasayarat utama seorang bayi dapat bertahan hidup dan berkembang dengan baik. Kasih ibu tersebut tidaklah secara serta merta muncul ketika seseorang menjadi ibu. Masih ingat cerita tentang bayi Negeri Bambu lainnya yang sempat menggemparkan seluruh dunia? Bayi yang mungkin bahkan belum membuka mata tersebut lancar terpelosok dalam saluran toilet umum dan perlu dilakukan penyelamatan dramatis yang tersiar ke seluruh dunia.


Semoga peristiwa-peristiwa yang terekspos ini dapat menjadi cermin bagi setiap mereka yang punya nurani, terlebih lagi penduduk Negeri Bambu agar mereka memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi dan menjunjung hak hidup. Mata pengamat sosial memperhatikan negeri Panda dan perlakuan mereka terhadap sesama makhluk hidup ketika mereka melakukan perbaikan kepadatan penduduk.

Source (or to be read)
http://id.she.yahoo.com/seorang-bayi-ditusuk-90-kali-oleh-ibunya-111259556.html
http://id.berita.yahoo.com/bayi-cina-dibuang-diselamatkan-dari-pipa-toilet-090753726.html
http://video.sindonews.com/view/3223/drama-penyelamatan-bayi-cina-di-pipa-toilet
http://www.tempo.co/read/news/2013/05/29/118484155/Polisi-Periksa-Ibu-Pembuang-Bayi-di-Pipa-Toilet




Jumat, 28 Juni 2013

Indonesia, Singapura dan Kebakaran Hutan

Siapa sih yang senang bila harus menghirup asap yang berbau apalagi buruk untuk kesehatan, jadi wajar bagi saya bila Singapura mengambil langkah kuratif bagi kebakaran hutan yang terjadi di provinsi Riau. Reaksi yang ditunjukkan oleh pemerintah Indonesia yang berwenang bahkan cukup mengagetkan bagi saya sebagai seorang warganya. Itupun dalam kenyataan Singapura mengambil tindakan dan berbicara pada Indonesia terlebih dahulu sebelum Malaysia yang memang juga kebagian asap dari Indonesia. Bayangkan bila Malaysia (yang dari dahulu dikenal "musuh" dan "saudara" sejati bangsa Indonesia), mungkin yang riuh bukan hanya pemerintah, tapi juga warga Indonesia yang notabene mengaku nasionalis sebagai pembenaran.

Kerugian yang ditanggung oleh negara-negara tersebut memang cukup perlu mendapat sorotan. Bayangkan betapa kecewanya masyarakat pecinta bola Indonesia ketika Manchester United yang disponsori operator telekomunikasi Hutchison-3 batal datang ke Indonesia setelah terjadi bom yang menyerang hotel ternama di Indonesia. Setelah kondisi darurat diberlakukan di dua wilayah Malaysia selatan, sebuah klub Inggris berbasis di Wales bernama Cardiff Citty batal mengunjung Kuala Lumpur, Malaysia untuk melakukan coaching clinic. Rencana kunjungan Malky Mackay, David Kerslake, Mark, Craig Bellamy, dan anggota tim lainnya terpaksa yang semula direncanakan selama enam hari ditunda sebagaimana diungkapkan Sri Vincent Tan, pemilik club. Malaysia baru saja kehilangan satu rencananya untuk mendorong jumlah investor dan pariwisata di Malaysia. Bahkan 200 sekolah di Malaysia ditutup sementara.

Singapura yang memiliki image baik sebagai negara yang sangat peduli kebersihan dan kesehatan juga terpaksa untuk sementara tak dapat berbangga dengan hal itu karena banyak dampak dari asap Indonesia bagi negara kecil, maju dan bertempo hidup cepat itu. Tingkat polusi udara di Singapura mencapai rekor tertinggi dalam sejarah di negara itu dan dapat mengancam keselamatan jiwa. Pemerintah Singapura mengeluarkan peringatan kesehatan setelah indeks standar polusi (PSI) mencapai 155 dan menjadi tingkat tertinggi sejak 1997.

Asap diklaim berbahaya dan mengganggu aktivitas bisnis di Singapura. Sejumlah pekerjaan konstruksi di Singapura terhambat, agensi iklan dan pemasaran meliburkan karyawannya yang kemudian disusul oleh Badan Pariwisata Singapura, Mindshare Social, Singapore Korean International School, Discovery Networks Asia-Pacific, Thomson Reuters, dan Lenovo Singapore. Layanan restoran cepat saji seperti McDonald, Popeye, Pizza Hut, KFC dan Pasta Mania ikut tutup bahkan militer menangguhkan latihan di luar ruangan. Singapura memperingatkan warganya untuk menghadiri aktivitas fisik di luar ruangan, terutama orang lanjut usia 65 tahun ke atas, perempuan hamil, pengidap penyakit kronis seperti berpenyakit jantung dan paru-paru sebagai warga yang rentan diminta tetap di dalam ruangan, bahkan anak-anak dihimbau untuk tidak bermain ke luar rumah. Badan Lingkungan Hidup atau National Environment Agency (NEA) menyatakan bahwa masker N95 yang biasa diperjualbelikan dan kini dipakai untuk mencegah asap terhirup ternyata tidak cocok untuk anak-anak. Masker biasa atau surgical mask tidak akan banyak membantu.

Bila kita berpikiran logis, maka wajar saja masalah yang mengakibatkan rakyatnya tidak dapat beraktifitas maksimal ingin segera ditanggulangi yang bila diungkapkan secara aktif menjadi "mendesak otoritas Indonesia untuk melakukan langkah segera untuk mengurangi kabut yang melintas batas." Bila kita bersikap lebih kritis, kita dapat menelaah lebih jauh beberapa faktor.

Pernyataan "Tidak ada negara atau korporasi memiliki hak untuk mencemari udara dengan mengorbankan kesehatan dan kesejahteraan Singapur" yang diungkapkan Menteri lingkungan hidup Singapura Dr Vibian Balakrishnan, perlu disetujui namun bagaimana pernyataan bahwa untuk waktu yang lama, kepentingan komersial Indonesia telah mengesampingkan masalah lingkungan hidup? Sementara pemerintah Indonesia berpendapat bahwa investor asal Singapura dan Malaysia juga ikut bertanggungjawab dalam kebakaran hutan ini, di mana teknik pembalakan dan pembakaran digunakan di lahan yang murah sebagai metode pembersihan bukan hanya oleh petani lokal, tapi juga karyawan perusahaan minyak sawit termasuk yang dimiliki pengusaha Singapura dan Malaysia, seperti diungkapkan Hadi Daryanto, seorang pejabat Kementerian Kehutanan Indonesia.

Masalah asap ini bahkan diibaratkan sebagai persoalan dalam keluarga oleh Menteri ESDM Indonesia, Jero Wacik. Ia meminta Singapura memahami filsafat hidup masyarakat Indonesia dan sebagai negara bertetangga, masalah ini diselesaikan dengan baik dan tidak "ribut pada dunia" demi mengingat bahwa selama ini Indonesia banyak menyumbang kebutuhan gas ke Singapura dan pendapatan yang terdongkrak signifikan oleh belanja dari turis asal Indonesia. Apakah hal ini bijak dilakukan di era komunikasi yang tak terbatas sekarang ini? Berita tak lagi lokal untuk segala lapisan masyarakat, hanya menunggu waktu yang tak lama sehingga Indonesia hanya salah satu "kampung" di global village bernama dunia. Sepertinya cara lobi per individu (negara) seperti ini tak lagi akan banyak berdampak, coba sekarang dibayangkan bila Malaysia telah terkena, atau akan adakah cara penanganan lain lagi bila negara lain di kawasan ASEAN terkena.

Selayaknya usaha preventif terhadap pembakaran hutan dilakukan oleh semua pihak mencakup pemerintah dan perusahaan yang memiliki koneksi terhadap penggunaan lahan. Seperti semua perubahan penting di dunia, perlu dimulai dengan kesadaran dan berlanjut dengan komitmen untuk mengadopsi serta menjalankan kebijakan layak sehingga masalah tidak hanya menjadi beban satu pihak saja. Perlu bukti nyata bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tak dapat hidup tanpa orang lain dan perlu memikirkan keberadaan orang lain, bukankah sesederhana itu landasan bagi pemerintah, perusahaan dan semua lembaga terkait karena pada dasarnya semua individu adalah manusia?

Sebagai informasi, kabut asap terburuk pernah dialami kawasan Asia Tenggara pada tahun 1997 dan 1998 yang meliputi wilayah Malaysia, Singapura, Brunei dan selatan Filipina yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan kerugian mencapai sekitar US$9,3 miliar. Jumlah wisatawan menurun tajam dan asap menyebabkan 20 juta orang sakit. Kabut asap juga menyebabkan sejumlah kecelakaan transportasi sebagai dampak rendahnya jarak pandang.

Berdasarkan data BPBP Riau, hampir seluruh provinsi Riau telah tercemar kabut asap dengan tingkat ketebalan bervariasi dan kondisi terburuk terjadi di kota Dumai, Kabupaten Bengkalis, Rokan Hilir dan Kabupaten Rokan Hulu. Perubahan arah angin justru mengakibatkan daerah Sumbar terkena asapnya dan mulai membaik karena hujan turun. Bukan berarti Indonesia diam berpangku tangan menghadapi kenyataan itu, bahkan sebelum terjadi hujan alamipun, Indonesia telah mengusahakan hujan buatan. Hujan buatan adalah satu dari tiga strategi dalam penanganan asap yang terdiri dari: pemadaman di udara dengan water bombing dengan helikopter, hujan menggunakan pesawat terbang serta sosialisasi dan penegakan hukum. Di samping itu, Indonesia memang perlu mewaspadai titik api yang tersebar di seluruh wilayah, karena beberapa area memang memiliki potensi kebakaran bahkan tanpa pembakaran hutan yang disengaja. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, daerah dengan titik api terbanyak ialah provinsi Riau, dengan 703 titik. Sedangkan di Kalimantan Barat, ada 50 titik api.

Reference
http://bola.viva.co.id/news/read/424008-gara-gara-kabut-asap--klub-premier-league-batal-ke-malaysia
http://bola.viva.co.id/news/read/423981-kabut-asap-mulai-serang-sumatera-barat
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=292428:asap-indonesia-selimuti-singapura
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=292619:singapura-protes-asap-sumatera
http://m.news.viva.co.id/news/read/423097-kabut-asap--singapura-larang-anak-anak-keluar-rumah
http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/06/130621_singapura_haze.shtml
http://forum.kompas.com/internasional/277967-kabut-asap-selimuti-singapura.html
http://www.tribunnews.com/2013/06/20/diselimuti-asap-singapura-minta-indonesia-segera-bertindak
http://international.okezone.com/read/2013/06/24/411/826956/soal-asap-singapura-ini-kata-wacik
http://www.lensaindonesia.com/2013/06/21/diselimuti-asap-perkantoran-singapura-libur.html
http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2013/06/130621_update_haze_bnpb.shtml